Postingan

Terbiasa #1

        Suara tawaku dan Yura memecah keheningan di kos Yura. Sekarang jam 2 siang. Kebanyakan penghuni lain masih ada kelas atau kegiatan lain di luar kos, hanya beberapa yang ada di kosan itupun untuk tidur siang. Aku tidak suka tidur siang. Biasanya Yura suka tidur siang, tetapi siang ini dia lebih memilih mendengarkan ceritaku tentang kelucuan Miki ketika makan siang tadi. Entah itu pilihannya atau aku yang tidak memberinya pilihan lain. Yura memang pendengar yang baik!         Akhir-akhir ini aku sering dibuat tertawa oleh Miki. Dia sering melucu juga tanpa sadar melakukan hal-hal konyol yang selalu bisa mengocok perutku. Bahkan, terkadang hanya mendengar suaranya saja aku sudah bisa tertawa. Suaranya mirip salah satu tokoh favoritku di serial radio kesukaanku. Aneh! Entah karena semua candanya lucu atau karena yang melucu adalah Miki aku jadi tertawa. Aku suka tertawa, tertawa membuat sisa hari ter...

Untold Story.

Bising. Terlalu banyak suara. Suara ini dan itu. Suara yang bermacam-macam. Berulang kali kudengar pernyataan dan pertanyaan, tetapi tidak ada satupun yang bertanya “Mengapa?”. Mempertanyakan alasan, mendengarkan berbagai pertimbanganku. Aku tidak sedang mencoba membuat kalian mengerti, atau memaklumi. Aku hanya ingin berbagi. Hidup tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kita. Meskipun plan A, plan B, plan C sudah dibuat, langkah menghadapi kemungkinan terbaik hingga terburuk sudah disiapkan, pemilik semesta selalu mampu memberikan kejutan yang tak terduga. Kado manis, hadiah besar pembelajaran hidup yang mungkin tidak akan kita dapatkan kalau hidup kita selalu berjalan sesuai dengan rencana kita. Sampai kita benar-benar tau, manusia seperti apakah kita? Ingin menjadi manusia yang seperti apa? Apakah tujuan utama kita? Apakah pikiran & hati kita benar-benar searah? Setiap hari pertanyaan itu muncul. Manusia seperti apakah aku? Aku ingin jadi manusia yang seperti apa? ...

Obrolan Singkat

Karya : Ochistiar 15 Feb at 13.52 ***Rak Sepatu start a new conversation with you*** “Kamu percaya takdir?” “Eh?” “Kalau apapun yang akan kita lewati dalam hidup ini sudah diatur..” “Percaya, tapi bukan berarti kita tidak bisa memilih. Adakalanya takdir yang memilih kita, tapi ada masanya juga kita yang memilih takdir.” “Pilihan. Masalahnya ada disana, pilihan hidup itu tidak seperti soal pilihan ganda yang sekali memilih langsung diketahui jawabannya. Pilihan hidup itu seperti percabangan yang punya anak cabang dan cucu cabang lainnya yang mampu memutar-mutar kita ke negeri entah berantah. Mungkin kalau kita memiliki semuanya dan tidak harus memilih ceritanya akan jadi lebih mudah.” “Dari sekian banyak bintang di langit kita juga tidak bisa memetik semuanya bukan?  Kita hanya memiliki dua tangan. Untuk memetiknya saja sudah menguras tenaga, entah bagaimana cara merangkulnya. Manusia diharuskan memilih karena keterbatasannya. Manusia tidaklah semp...

Cita-cita

      Waktu kecil aku suka banget sama kartun Mickey Mouse. Hampir semua barang yang aku pakai ada gambar Mickey-nya. Mulai dari tas sekolah, sandal, kaos kaki, gelas, piring, sendok, buku gambar, dll, semua bergambar Mickey Mouse. Tetapi, cita-cita pertamaku justru punya rumah yang ga ada tikusnya. Ya, dulu aku penyuka Mickey Mouse yang takut tikus.       Begitu udah bisa baca, aku pengen jadi Princess Aurora. Princess Aurora itu Princess favoritku, menurutku dia yang paling keren. Dulu, aku kira jadi Princess itu keren, keren banget. Bajunya lucu-lucu, roknya kayak gelembung besar gitu, bagus. Kalau sekarang diinget-inget lagi, apa asiknya jadi Princess yang gara-gara ketusuk jarum bisa tidur selamanya, yang cuma bisa bangun kalo Pangeran dateng. Setelah bangun pun, ceritanya langsung berhenti. Bahagia selamanya, katanya. Padahal akhir cerita itu kan suatu awal yang baru buat Aurora dan pangeran. Fyi, selamanya itu lama banget loh. Yakin bahagia selama...

Tersesat

Oleh: Ochistiar Aku kehilangan porosku Aku tidak bisa berputar seperti biasanya lagi Aku tidak tahu lagi apa yang aku ingin Aku tidak mengerti lagi tentang target-target yang biasanya kubuat Aku tersesat, tak tahu arah Aku kehilangan, kebebasan. Tunggu.. Sebentar.. Kemudian aku berpikir, bagaimana bisa aku kehilangan kebebasan ketika aku masih bisa berpikir. Aku tahu kalau aku tersesat, pikiranku berkata begitu. Tetapi bagaimana aku tahu aku kehilangan kebebasan, ketika bahkan pikiranku masih bebas mengatakan kalau aku tersesat. Kenapa harus tersesat? Kenapa harus kehilangan? Kenapa pikiranku memilih untuk mengatakan itu? Bisa saja pikiranku mengatakan aku tidak tersesat, toh aku tidak suka tersesat, apalagi kehilangan. Tetapi mengapa pikiranku memilih untuk mengatakannya? Apakah dia lelah? Pikiranku memang tidak pernah bisa beristirahat. Mengapa dia justru mengatakan sesuatu yang tidak aku suka? Apakah dia sudah menyerah? Menyerah pada ...

Surat Perpisahan

Karya : Ochistiar Sat, 23 Nov at 9:33   From: Fiksi Mini to you Halo, apakah kamu masih suka melihat langit? Kalau kamu masih suka, biarkanlah aku menjadi wanita yang berdiri di bulan atau melesat jauh setinggi bintang atau berpijar seterang matahari atau sekedar menjelma sebagai awan yang melindungimu dari terik mentari, supaya kamu selalu melihat aku, kemudian mengingat kita. Bagaimana kabarmu? Aku harap sehat selalu ragamu, pun tangguh jiwamu, dengan bahagia senantiasa menemanimu di musim apapun. Surat ini aku tulis dengan seluruh ketulusan yang aku miliki. Dengan kerendahan hati meminta sedikit waktumu untuk membacanya. Aku tau, waktu adalah pemberian yang sangat berharga sebab sedikit waktu ini adalah bagian dari hidumpu yang luar biasa. Jadi aku sangat menghargainya. Setelah surat ini aku tidak akan meminta waktumu lagi, aku juga tidak akan mempertanyakan keberadaanmu lagi, aku tidak akan memaksamu berhenti main game hanya untuk melakukan apa yang aku...
Terdiam Katya : Ochistiar Masing-masing pikiran kami berlarian kesana-kemari. Menyusun kata demi kata anak tangga kalimat untuk turun hingga memperdengarkan suara. Menyampaikan isi pikiranku, pada orang yang duduk disisi kanan. Orang disisi kanan pun membisu jua, kami sama-sama menunggu. Dingin AC, sayup-sayup mulai menyapa sekeliling kami dan kami masih dibalut sepi. Sofa putih ini ternyata cukup luas untuk sekedar menampung kami berdua, bersama kertas-kertasnya dan kertasku berhamburan dimana-mana memenuhi bagian sofa yang kosong, tetapi sunyi masih mampu mengisi sela diantara kertas-kertas itu. Aku menatap lembaran-lembaran yang seharusnya kubaca, tetapi pikiranku masihlah menyusun kata. Orang disisi kanan pun masih sibuk membaca diktatnya yang tebal. Namun sudah hampir sepuluh menit tak kunjung berganti halaman, aku tak yakin pikirannya masih disana. Sebentar kemudian, kulihat dia menatap map kuning tembus pandang milikku. Sedikit menengok, berharap ada sepotong ...