Terdiam
Katya : Ochistiar
Katya : Ochistiar
Masing-masing pikiran kami
berlarian kesana-kemari. Menyusun kata demi kata anak tangga kalimat untuk
turun hingga memperdengarkan suara. Menyampaikan isi pikiranku, pada orang yang
duduk disisi kanan. Orang disisi kanan pun membisu jua, kami sama-sama
menunggu.
Dingin AC, sayup-sayup mulai
menyapa sekeliling kami dan kami masih dibalut sepi. Sofa putih ini ternyata
cukup luas untuk sekedar menampung kami berdua, bersama kertas-kertasnya dan
kertasku berhamburan dimana-mana memenuhi bagian sofa yang kosong, tetapi sunyi
masih mampu mengisi sela diantara kertas-kertas itu.
Aku menatap lembaran-lembaran yang
seharusnya kubaca, tetapi pikiranku masihlah menyusun kata. Orang disisi kanan
pun masih sibuk membaca diktatnya yang tebal. Namun sudah hampir sepuluh menit
tak kunjung berganti halaman, aku tak yakin pikirannya masih disana. Sebentar
kemudian, kulihat dia menatap map kuning tembus pandang milikku. Sedikit
menengok, berharap ada sepotong kata yang keluar dari bibirnya. Tak satupun.
Mulai bosan oleh hening,
kurubah-ubah posisi duduk sesuka hatiku. Miring ke kanan, ke kiri, meluruskan
kaki kedepan, duduk sila, bersandar, tanpa bersandar, semua posisi telah
kucoba, tetapi rasanya belum puas juga hati ini. Karena yang aku mau hanyalah
memecah kesunyian ini, menghadirkan cerita mengundang tawa. Karena yang
sesungguhnya aku ingin hanyalah meluapkan pemikiran, mengisahkan kejujuran
rasa.
Merubah posisi-posisi duduk,
menyebabkan spidol warna-warniku yang turut mengisi sofa, menggelinding tak
tentu arah. Orang disisi kanan bangkit memunguti spidol warna-warni itu dan
serta-merta memasukkannya ke map kuning tembus pandang milikku. Tanpa bertanya,
tanpa berkata, masih dalam diam.
Tak langsung membuka diktatnya
yang tak sengaja tertutup, orang disisi kanan malah memandang lurus kedapan.
Lama. Sempat aku menoleh beberapa kali dan tatapannya masih lurus kedepan. Aku
tak benar-benar yakin dengan apa yang sedang diperhatikannya. Ruangan ini
kosong hanya terisi sofa, kami, dan sepi. Sampai akhirnya orang disisi kanan
memasukkan diktat dan kertas-kertas lain miliknya kedalam tas ransel hitam
kesayangannya. Kemudian beranjak pergi. Meninggalkanku sendiri..
Aku masih terduduk dan tak tahu
harus berbuat apa. Orang disisi kanan pergi membawa semua mimpi serta harapan
yang pernah kumiliki. Orang disisi kanan hanya menyisakan sepi dan sunyi yang
sedari tadi mengisi ruangan ini. Menghadirkan banyak tanya dalam benakku.
Pikiranku semakin disibukkan
dengan kenyataan baru, bahwa dia pergi menyisakan sepi. Mungkin inilah jawaban
dari susunan kata yang sedaritadi berputar-putar didalam pikiranku. Mungkin dia
bisa mendengar kata-kata yang telah aku susun. Mungkin pikiran kami bisa
berkomunikasi dengan baik dalam diam. Mungkin dengan aku menyampaikannya dalam
sunyi dia pun menjawabnya dengan sepi. Atau mungkin, dia hanya tidak ingin
menghabiskan waktu denganku. Tidak ingin bersamaku. Perlahan aku kuatkan
tanganku untuk membereskan kertas-kertas yang masih berserakan di sofa.
Menyusunnya perlahan, hingga mampu dimasukkan ke map kuning tembus pandang
dengan rapi.
Satu menit, dua menit, tiga menit,
aku masih terdiam dengan kertas-kertas di tangan kananku, tak berkedip
memandangi map kuning tembus pandang milikku. Disana, terdapat kertas yang tak
kusangka-sangka masih ada disana. Goresan tinta dari orang di masa lalu,
namanya terukir dengan apik, bersangkar indah cerita masa lampau. Namun, itu
hanyalah kenangan yang mampu menghadirkan senyum dan tangis ketika mengingatnya.
Seketika itu juga, aku teringat
orang disisi kanan yang tetiba pergi. Orang disisi kanan, yang mengisi hatiku
kini..
Komentar
Posting Komentar