Obrolan Singkat
Karya : Ochistiar
15 Feb at 13.52
***Rak Sepatu start a new conversation with you***
“Kamu percaya takdir?”
“Eh?”
“Kalau apapun yang akan kita lewati dalam hidup ini sudah
diatur..”
“Percaya, tapi bukan berarti kita tidak bisa memilih.
Adakalanya takdir yang memilih kita, tapi ada masanya juga kita yang memilih
takdir.”
“Pilihan. Masalahnya ada disana, pilihan hidup itu tidak
seperti soal pilihan ganda yang sekali memilih langsung diketahui jawabannya.
Pilihan hidup itu seperti percabangan yang punya anak cabang dan cucu cabang
lainnya yang mampu memutar-mutar kita ke negeri entah berantah. Mungkin kalau
kita memiliki semuanya dan tidak harus memilih ceritanya akan jadi lebih
mudah.”
“Dari sekian banyak bintang di langit kita juga tidak bisa
memetik semuanya bukan? Kita hanya
memiliki dua tangan. Untuk memetiknya saja sudah menguras tenaga, entah
bagaimana cara merangkulnya. Manusia diharuskan memilih karena keterbatasannya.
Manusia tidaklah sempurna hingga bisa memiliki segalanya. Lagipula, memiliki
segalanya tidak menjamin kebahagiaan seseorang.”
“Kamu salah. Kalau manusia memiliki segalanya tentu manusia
juga memiliki kebahagiaan. Segalanya. Termasuk kebahagiaan.”
“Selain tidak sempurna manusia memiliki sifat yang lain,
serakah. Alih-alih berhasil membawa pulang semua bintang di langit, manusia
justru tidak akan membawa apapun. Karena dia hanya sibuk berlari kesana kemari
untuk menarik semua bintang sampai akhirnya terlalu lelah bahkan memetik satu
bintangpun tidak mampu. Begitulah orang yang serakah, pada akhirnya justru
tidak mendapatkan apa-apa.”
“Aku suka langit malam yang dipenuhi kerlip bintang ditemani
cahaya bulan yang lembut dengan kamu disisiku tentunya dan aku tidak suka siang
yang terik terlebih tanpa kamu. Aku sudah memilih bukan? Aku manusia yang tidak
sempurna dan mencoba tidak serakah agar setidaknya aku tidak kehilangan satu
bintang yang tidak ada duanya.”
“Tujuan. Asal kamu selalu mengingat tujuanmu, apapun yang
kamu pilih akan menuntunmu pada tujuan. Seperti halnya kata orang, ada beribu
jalan menuju Roma. Lagipula aku percaya takdir bukan hanya satu garis lurus, melainkan
suatu ruang yang tersusun dari beribu garis. Sebab itu seringkali hikmah yang tersembunyi
baru bisa terlihat ketika manusia itu melihat cerita secara keseluruhan.”
“Tujuan? Aku ingin jadi pembisnis. Supaya aku bisa leluasa
menghabiskan waktu dengan keluarga.”
15 Feb at 14.09
***Fiksi Mini left the chat***
“Bukannya waktu untuk keluarga
jadi lebih sedikit ya, jam kerja yang ga pasti, sering keluar kota, membangun
relasi, juga ini-itu lainnya. Belum waktu buat nge-game-nya.”, mataku
meninggalkan layar laptop, melanjutkan diskusi pikiran dengan John C. Maxwell, membahas
bagaimana cara membangun relationship dengan manusia yang lain.
Harus kuaiku
“Oke-oke, memang kamu pengennya aku gimana?”
Sedikit menoleh, tanpa
meninggalkan John C. Maxwell sendirian, “Kenapa tanya aku? Itu impianmu, kamu bebas
menentukan apa yang kamu ingin dalam hidup. Aku tidak akan membuatmu berhenti.
Kamu juga jangan membuat aku berhenti”.
“Memang apa impianmu?”
“Makan siomay Kang Cepot sekarang!”, dengan semangat kumasukan buku-bukuku kedalam tas ransel coklat kulit yang sedari tadi terkapar di lantai samping kursi Raka.
“Impianmu sederhana banget, Fi.”
“Semua yang besar dimulai dari sesuatu yang sederhana. Lagian aku udah 3 jam nungguin kamu nge-game. Gimana aku ga kelaperan coba”, kudorong badan Raka sedikit supaya lebih cepat meninggalkan ruangan.
“Itu kamu paham, kalo nunggu itu ga enak..”, gumam Raka.
Langkahku
terhenti. Aku menoleh pada sahabat di sampingku. Aku tahu pasti, menunggu itu
memang tidak menyenangkan. Oleh sebab itu aku tidak pernah datang lebih awal,
karena aku tidak ingin menunggu, sebisa mungkin aku datang tepat pada waktunya, sederhana. Ada potongan sajak tentang menunggu
milik Tere Liye yang aku suka..
“ Bukankah,
banyak yang berharap jawaban
dari seseorang?
yang sayangnya, yang diharapkan
bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya.
Bukankah,
banyak yang menanti penjelasan
dari seseorang?
yang sayangnya, yang dinanti
bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa.
Bukankah,
banyak yang menunggu, menunggu,
dan terus menunggu seseorang
yang sayangnya, hei, yang
ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Finally bisa nge-post lanjutan fiksi mini yang udah kapan taun itu ekekeke :v
Finally bisa nge-post lanjutan fiksi mini yang udah kapan taun itu ekekeke :v
Ps : Rencananya bagian awal mau dibikin ala-ala Yahoo Messenger gitu. Tapi ternyata aku udah lupa notif awal dan akhir chatting di Ym! kayak apa hehehe. Dulu sebelum aplikasi chat merajalela kayak sekarang, aku sering banget pake Ym! buat ngobrol sama temen-temen. Bisa chat personal, bisa juga chat rame-rame. Kangen Ym!-an wkwkw
Komentar
Posting Komentar