Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Surat Perpisahan

Karya : Ochistiar Sat, 23 Nov at 9:33   From: Fiksi Mini to you Halo, apakah kamu masih suka melihat langit? Kalau kamu masih suka, biarkanlah aku menjadi wanita yang berdiri di bulan atau melesat jauh setinggi bintang atau berpijar seterang matahari atau sekedar menjelma sebagai awan yang melindungimu dari terik mentari, supaya kamu selalu melihat aku, kemudian mengingat kita. Bagaimana kabarmu? Aku harap sehat selalu ragamu, pun tangguh jiwamu, dengan bahagia senantiasa menemanimu di musim apapun. Surat ini aku tulis dengan seluruh ketulusan yang aku miliki. Dengan kerendahan hati meminta sedikit waktumu untuk membacanya. Aku tau, waktu adalah pemberian yang sangat berharga sebab sedikit waktu ini adalah bagian dari hidumpu yang luar biasa. Jadi aku sangat menghargainya. Setelah surat ini aku tidak akan meminta waktumu lagi, aku juga tidak akan mempertanyakan keberadaanmu lagi, aku tidak akan memaksamu berhenti main game hanya untuk melakukan apa yang aku...
Terdiam Katya : Ochistiar Masing-masing pikiran kami berlarian kesana-kemari. Menyusun kata demi kata anak tangga kalimat untuk turun hingga memperdengarkan suara. Menyampaikan isi pikiranku, pada orang yang duduk disisi kanan. Orang disisi kanan pun membisu jua, kami sama-sama menunggu. Dingin AC, sayup-sayup mulai menyapa sekeliling kami dan kami masih dibalut sepi. Sofa putih ini ternyata cukup luas untuk sekedar menampung kami berdua, bersama kertas-kertasnya dan kertasku berhamburan dimana-mana memenuhi bagian sofa yang kosong, tetapi sunyi masih mampu mengisi sela diantara kertas-kertas itu. Aku menatap lembaran-lembaran yang seharusnya kubaca, tetapi pikiranku masihlah menyusun kata. Orang disisi kanan pun masih sibuk membaca diktatnya yang tebal. Namun sudah hampir sepuluh menit tak kunjung berganti halaman, aku tak yakin pikirannya masih disana. Sebentar kemudian, kulihat dia menatap map kuning tembus pandang milikku. Sedikit menengok, berharap ada sepotong ...

Beberapa hari yang lalu..

Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan waktu untuk pulang ke rumah, menengok Ayah. Sepertihalnya kepulanganku sebelum-sebelumnya, malam itu hingga pagi kuhabiskan menemani Ibu berbincang mengenai berbagai hal. Awalnya Ibu yang bercerita macam-macam, tentang Ayah, Zahir, serta kegiatannya yang lain. Kemudian Aku bercerita banyak hal, tentang kuliahku, hal-hal yang telah kucoba, hingga mimpi-mimpiku. Sampai akhirnya, aku mengeluarkan suatu pertanyaan.. "Bu, akhir-akhir ini aku bosen sama hidupku. Kok kayaknya gitu-gitu aja. Bangun pagi, balik kosan udah malem, langsung tidur, gitu-gitu aja.. Gimana ya biar nggak bosen? Mana rasanya capek banget sama rutinitas yang itu-itu aja. Mungkin kerasa capek karena bosennya itu. Gimana ya biar pas bosen nggak bikin capek?" "Coba setiap bangun pagi, niatkan semua agendamu hari itu karena Allah, dan untuk Allah" Sederhana. Tapi, terdengar sangat menenangkan. Membuat semuanya terlihat jadi lebih mudah untuk dilalui, kar...

Sepenggal Perjalanan

  Karya : Ochistiar ... Mungkin inilah keterbatasanku Belum mampu menyulam senyum ketika berada di dekatmu dengan hati berjarak Jadi, baiknya begini Masing-masing kita mengejar apa yang masing-masing kita cita kan Semoga bahagia senantiasa menemani setiap langkahmu, pun langkahku Jangan sampai kamu membuatku berhenti Aku, tak akan membuatmu berhenti Sehingga pada akhirnya, Kita sampai pada masing-masing tujuan ... Dan aku tetap akan memilih lajurku sendiri Menggambar impianku secara semena-mena Menulis berlembar-lembar kisah dengan rima semangat menggapai cita Biarkanlah jiwa yang haus akan pencapaian ini, mengejar angan penghilang dahaga Semerta-merta membawa mimpi pada kenyataan Mungkin sesekali kita akan berpapasan atau bahkan bersilangan jalur Hingga, jika kita memang akan bersama, berada di jalur dan menuju tujuan yang sama, maka kita akan bersama Jika tidak, kamu adalah hal terindah di perjalanku Ini kataku yang sekarang, ...

Mungkin Benar Adanya

Karya : Ochistiar Mungkin benar adanya, setiap insan mempunyai titik baliknya masing-masing. Titik yang merubahnya ke arah lebih baik maupun sebaliknya. Titik yang mampu membuatnya menentukan pilihan, mengambil sikap, mendekat pada tujuan. Mungkin benar adanya, setiap orang memiliki kepercayaan. Kepercayaan yang seiring berjalannya waktu mengantarkannya pada pintu takdir. Mungkin benar adanya, setiap manusia memiliki rumah. Rumah tempat kembali di pertengahan ketika ingin sekedar singgah kemudian pergi Meski pada akhirnya, disanalah tujuan pulang. Kisah yang bertumpu pada kebenaran, jalan yang semata-mata menuju kebaikan, tidak akan sia-sia. Bukankah ini menjaga yang sesungguhnya? Aku percaya. Terimakasih, telah menjadi ikhtisar dari tiga yang mungkin benar adanya. Titik balik, kepercayaan, rumah, dan Aku percaya. 11 Januari 2014 23.18-23.44