Bayangmu
Siang ini awan berkumpul di
langit,bersekongkol, menutupi penghuni bumi dari sinar matahari yang terik.
Membuat siang ini tampak teduh,namun sedikit suram. Ketika angin datang seraya
membelai lembut pipi ini aku teringat olehmu. Apalagi dari tempatku duduk
kini,tampak daun-daun coklat yang berjatuhan disapa angin. Siang ini,mirip
siang itu.
Aku telah pergi baratus-ratus
kilometer menjauhi dirimu dengan maksud membuang ingatan tentangmu.
Tapi,keadaan sederhana ini mengingatkanku kembali akan adamu. Melupakanmu
ternyata tidaklah sederhana. Butuh berjuta-juta kata untuk mengartikan perasaan
ini ke dalam tulisan.
Aku sempat terpaku,terdiam,memandang
keadaan ini. Kenapa kalian mengingatkanku tentangnya? Aku masih bergeming.
Bayangmulah yang muncul diantara daun-daun coklat itu. Tersenyum ke
arahku,senyum yang kulihat diakhir pertemuan terakhir kita. Aku masih tak
bergerak,memandang kosong ke arah bayangmu. Janganlah pergi,tetaplah disini
bersamaku. Temani aku menjalani hari,bagilah senyum hangat yang senantiasa
menghiasi wajahmu untukku.
Tampaknya langit tak ingin
membuatku berlarut-larut mengingatmu. Perlahan, titik-titik air berjatuhan ke
bumi. Membasahi daun-daun coklat yang mengingatkanku tentangmu. Tumpahan air
semakin deras,menyiram pepohonan dan membasahi tanah berdebu di sekitarnya.
Membuat aroma tanah yang khas muncul dan bayangmu? Dimana bayangmu? Bayangmu
menghilang. Hujan,mengapa kau membuatnya pergi? Aku ingin lebih lama
bersamanya. Bawalah aku bersamamu,aku akan mengikutimu kemanapun kamu membawa
aku pergi. Jangan tinggalkan aku!
“Ayo masuk ke
dalem,hujannya makin deres.”
Aku menoleh dengan cepat. Bukan! Itu bukan dirimu!
Aku sadar. Melihatnya membawaku
kembali ke dunia nyata. Hanya dia yang sekarang disini. Dia yang menemaniku
menjalani hari,memberikanku senyum semangat miliknya. Kamu? Kamu sudah pergi seiring menghilangnya
bayang ditutup hujan. Selamat jalan,aku disini telah bahagia.
Komentar
Posting Komentar